Kisah Sebungkus Nasi

picture taken from http://kimchiconqueso.com/2011/04/30/nasi-bungkus/
Hasan dekil termenung duduk di pelataran pos satpam kampusnya. Tampak lusuh dengan t-shirt hitam yang sudah belel dan berubah warna. Perutnya cekung, matanya kosong rambutnya acak-acakan. Sudah hampir setengah jam dia duduk di sana dengan sebuah buku tata bahasa Jerman di pangkuannya. Di sampingnya berdiri sebuah gelas plastik berisi kopi hitam yang isinya tinggal setengah.

Wie geht es dir, San?” sapa Pak Sudarmo dengan bahasa Jerman seadanya, sambil kemudian menghampiri Hasan untuk duduk di sampingnya.


Untuk Cintaku; Ketika Semua Rasa Telah Untukmu

Kamu,
Mimpi besar dari sosok remeh seperti ku,
ketika ku bermain dengan khayal atas perasaan timpang,
hanya tertunduk, menahan letupan rasa yang semakin memuncak saat itu,
Aku tak ingin terbuai jauh oleh rasa setengah hati,
apalagi mati terbunuh oleh cinta yang sungguh tak pernah ada...

Melewati hari-hari lain dengan kamu sebagai kerlip terang yang kemudian hilang,
kembali datang hanya untuk pergi lagi dengan memberi titik benderang,
Lagi, kunikmati hadirmu sebagai sosok indah yang mungkin tak terjamah,
yang kemudian hilang pergi dengan desau angin tertunggang sebagai kawannya...


Aku

Aku sedang berdiri, di hadapan sebuah cermin yang cukup besar, sebuah cermin yang seketika memperlihatkan setiap inci dari tubuh ini tanpa terhalang ujungnya. Aku memperhatikan setiap bentuk dan warna yang telah Tuhan titipkan melalui anggota tubuh ini, terletak rapi pada tempat seharusnya mereka berada. Aku bukan seorang rupawan, yang jelas bangga akan wujud sempurna di sana, cermin itu cukup jelas menampakkan apa yang seharusnya aku sadari.

Aku mundur beberapa langkah dari sana, mempersempit ruang kosong antara aku dan tempat tidur ku. Duduk ku akhirnya. Di sana. Di permukaan empuk tempatku memulai angan, tempatku menerjemahkan mimpi ketika kembali kurasakan nafas pagi.

Tertunduk sebentar, mengenyahkan pikiran yang tidak bermuatan. Menghela nafas, mensyukuri setiap bulir tak kasat mata dari oksigen yang selalu mengisi paru-paru, yang membuatku tetap bernyawa, yang membuatku tetap bisa memaknai peran kecilku di dunia yang besar ini.